Top

7 Cara Mendidik dan Membimbing Anak yang Keras Kepala

15 September 2022

Apakah buah hati Anda sering mengabaikan nasihat Anda? Atau, bahkan ia mulai pintar mencari alasan untuk tidak mengikuti instruksi Anda? Apakah ia sering mengerjakan sesuatu yang Anda minta dengan ekspresi wajah yang kurang senang?

Menurut Katherine Lee, perilaku anak yang suka menentang, akan melekat pada diri anak dalam jangka waktu lama, dan mengganggu aktivitas belajar di sekolah, hubungan dengan keluarga, serta relasi dengan teman. Ini merupakan suatu indikasi bahwa ia sedang mengalami oppositional defiant disorder (ODD).

Dalam situs aldodokter.com, ODD bisa diartikan sebagai gangguan pada anak yang ditandai dengan perilaku menentang dan tidak taat kepada figur otoritas. Bagaimana cara mengatasi anak keras kepala atau anak yang mengalami gangguan ODD?

1. Hindari Mengatakan “Jangan”  dan “Tidak Boleh” Saat Melarang Anak

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sering menemukan buah hatinya melakukan sesuatu yang kurang pantas atau sesuatu yang tidak terpuji. Orang tua perlu menghindari kalimat yang mengandung kata “jangan” atau “tidak” kepada anak. Beberapa contoh kalimat yang perlu Anda hindari dan kalimat alternatif yang lebih halus serta bisa Anda gunakan saat melarang anak adalah sebagai berikut:

- Kalimat: “Kamu tidak boleh tiduran di lantai.”  Bisa diganti dengan kalimat: “Tidurlah di tempat tidur, Nak!”
- Kalimat: “Jangan berlari-lari.”  Bisa diganti dengan kalimat: “Berjalan saja, Nak!”
- Kalimat: “Jangan lama-lama bermain gim." Bisa diganti dengan kalimat: “Alangkah lebih baik jika kamu lebih bisa mengatur waktu untuk bermain gim.”

Orang tua perlu mengucapkan kalimat di atas dengan suara lembut, agar si kecil bisa mematuhi larangan Anda dengan hati tenang dan menghindari rasa sakit hati.

2. Berikan Tugas Sesuai Kemampuan Anak

Memberikan tugas untuk melakukan pekerjaan harian bisa mengembangkan kemandirian anak. Namun, tentu saja tugas tersebut haruslah sesuai dengan kemampuan anak. Bila anak belum mampu menyapu lantai, orang tua cukup meminta anak membereskan mainannya seusai bermain. Bila anak belum mampu mencuci piring, orang tua bisa memintanya untuk mengelap dan menata sendok atau piring plastik. Pastikan si kecil melakukannya dengan gembira, tidak merasa dipaksa, dan tetap dengan pendampingan orang tua.

3. Mencari Akar Penyebab Perilakunya

Beberapa penyebab anak menjadi pribadi yang keras kepala adalah:

- Anak diminta melakukan sesuatu yang tidak ia suka.
- Anak diminta melakukan sesuatu saat keadaan hatinya tidak baik (sedang sibuk, terburu-buru, lapar, lelah, dan lainnya).
- Anak diminta melakukan sesuatu yang sebenarnya belum terlalu ia kuasai (kurang mampu).

Orang tua tentu perlu memahami penyebab atau akar permasalahan mengapa anak melakukan ketidakpatuhan. Hindarilah sikap terburu-buru menyalahkan dan menganggap si kecil sebagai anak yang tidak patuh. Setelah memahami penyebabnya, orang tua bisa membantu anak mengatasi permasalahan anak dan memberikan nasihat dengan sikap sabar dan penuh kasih.

4. Memberikan Waktu Istirahat yang Cukup

Waktu istirahat bagi anak tidak hanya persoalan berapa lama waktu anak untuk tidur di malam hari atau di siang hari. Namun, juga jeda waktu anak untuk melakukan satu aktivitas menuju aktivitas yang lain.

Beberapa orang tua menjadwalkan buah hatinya untuk mengikuti aneka kegiatan setelah sekolah. Misalnya, setelah pulang sekolah dan tidur siang, si kecil harus mengikuti les menggambar, les piano, ataupun mengerjakan tugas sekolah. Pastikan anak memiliki jeda waktu yang cukup untuk menyegarkan pikiran setelah ia selesai melakukan satu aktivitas dan hendak melakukan aktivitas yang lain.

Bila kegiatan anak dalam satu hari dirasa cukup padat, orang tua perlu mengurangi kegiatan anak. Hal ini perlu dilakukan agar anak tidak mengalami kelelahan secara fisik dan mental. Sebab, hal ini bisa membuat emosi anak menjadi tidak stabil.

5. Memahami Anak dan Menjadi Contoh yang Baik

Orang tua perlu memahami bahwa perilaku anak adalah cerminan dari perilaku orang tuanya. Saat orang tua melihat buah hatinya memiliki kesulitan dalam mendengarkan nasihat orang tuanya, orang tua juga perlu melakukan introspeksi diri. Apakah orang tua juga sudah memiliki sikap sabar mendengarkan keluhan atau masukan dari buah hatinya.

Orang tua perlu menjadi contoh yang baik bagi si kecil. Cara orang tua berbicara, memberi instruksi, mendengarkan masukan, mengungkapkan ketidaksetujuan, dan segala perliaku sehari-hari pasti akan diamati oleh si kecil. Bila memang ada yang perlu diperbaiki, orang tua perlu memperbaiki diri agar bisa menjadi orang tua yang semakin baik dan bisa menjadi teladan bagi sang buah hati.

6. Tingkatkan Kebiasaan Berbahasa yang Santun Kepada Anak

Orang tua yang terbiasa melakukan komunikasi yang baik dan menggunakan bahasa yang santun atau halus pada anak akan memberikan pengaruh yang baik pada anak. Anak juga akan terbiasa menanggapi sesuatu dengan tetap menjaga sopan santun dalam berbicara. Saat anak mengungkapkan ketidaksetujuan atau melakukan suatu penolakan, anak juga akan cenderung menggunakan bahasa yang baik, sehingga tidak memicu terjadinya pertengkaran.

7. Bersikap Tegas

Sikap tegas tidak harus diungkapkan dengan kemarahan atau keadaan emosi yang labil. Beberapa anak kadang membutuhkan suatu sikap tegas saat ia benar-benar sudah melakukan kesalahan yang berulang-ulang atau sudah keterlaluan.

Orang tua bisa memberikan sikap tegas dengan memberikan suatu konsekuensi yang bersifat mendidik, misalnya saat anak terlalu lama menonton televisi, orang tua bisa memberikan konsekuensi untuk mengurangi waktu anak menonton televisi atau memberikan tugas untuk membantu ayah mencuci mobil. Dengan melakukan ini, anak akan semakin mengingat kesalahannya dan tidak akan mengabaikan nasihat orang tuanya.


Sumber Referensi:

1. Lee, K. (2020). Effective ways to handle defiant children [1]

2. Kadiri, Masymunah. (2022). How to deal with disobedient children [2]

 

Author :Kak Zepe

Kak Zepe adalah pencipta lagu anak, pengajar, dan penulis