Top

Kembangkan Keterampilan Berpikir Kritis Anak dengan Cara Ini!

29 Agustus 2022

Semakin berkembangnya teknologi, informasi datang dan pergi dengan sangat cepat. Di tengah banjir informasi seperti sekarang, kita tentu harus lebih berhati-hati. Tidak semua informasi yang datang harus diterima, apalagi harus diaplikasikan dalam kehidupan. Sebab, seringkali ada informasi yang justru menyesatkan dan harus dihindari.

Maka dari itu, keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan untuk memilih dan memilah informasi mana yang faktual dan informasi mana yang menyesatkan. Mengingat pentingnya kemampuan berpikir kritis, hal ini perlu ditumbuhkan dalam diri anak sejak dini.

Apa itu Keterampilan Berpikir Kritis?

Sherri Gordon mengatakan bahwa keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan membayangkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi untuk menentukan integritas dan validitasnya, misalnya apakah informasi tersebut sesuai fakta atau tidak. Keterampilan ini membantu orang membentuk opini dan ide, serta membantu mereka mengetahui siapa yang harus mereka ikuti dan siapa yang tidak harus mereka ikuti, atau informasi apa yang harus mereka ikuti dan informasi apa yang tidak harus mereka ikuti.

Mengapa Keterampilan Berpikir Kritis Sangat Penting?

Seperti kita tahu, informasi bisa datang dan pergi dengan begitu cepat. Apalagi bila anak mulai aktif di media sosial, anak yang tidak berhati-hati bisa saja menyalahartikan informasi yang ia terima. Informasi yang disalahartikan dapat menyebabkan terjadinya masalah di sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan relasi dengan teman-temannya. Keterampilan berpikir kritis memungkinkan anak untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia, termasuk bagaimana ia melihat dirinya di dunia itu.

Selain itu, anak yang belajar keterampilan berpikir kritis cenderung lebih teliti dan memiliki pemikiran yang terbuka. Keterampilan ini juga dapat membantu anak dalam memecahkan suatu masalah, mengembangkan kreativitas, dan meningkatkan produktivitas sehari-hari. Anak yang dapat memecahkan masalahnya sendiri cenderung merasa lebih percaya diri untuk mengatasi tantangan apa pun yang dihadapi dalam kehidupan.

Bagaimana Mengajarkan Keterampilan Berpikir Kritis pada Anak?

Mengajarkan anak untuk berpikir kritis adalah bagian penting dari “parenting”. Ketika orang tua mengajari anak menjadi pemikir kritis, secara tidak langsung, orang tua juga mengajari anaknya untuk memiliki karakter mandiri. Anak belajar untuk mengemukakan pendapatnya sendiri dan hingga memiliki kemampuan untuk membuat kesimpulan secara mandiri tanpa mendapatkan banyak pengaruh dari luar.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat orang tua ajarkan kepada anak untuk menjadi pemikir kritis.

a. Menjadi Teladan yang Baik

Saat menerima berita, baik dari media cetak atau media elektronik, orang tua perlu belajar untuk menelaah lebih dalam tentang berita yang baru saja diterima. Misalnya dengan cara mengecek di media-media lain yang lebih kredibel atau bertanya kepada orang yang dapat dipercaya. Orang tua tidak boleh langsung percaya dengan berita-berita yang meragukan apalagi memberikan reaksi yang berlebihan dan emosional (cemas, marah, atau khawatir yang berlebihan). Orang yang mampu berpikir kritis biasanya akan lebih bersikap tenang dan sabar saat menerima suatu informasi, apalagi yang bersifat meragukan atau mencurigakan. Kemampuan orang tua dalam mengelola emosi dan menelaah suatu berita akan menjadi teladan bagi anaknya.

b. Meluangkan Waktu Bermain Bersama Anak

Anak-anak sangat gemar bermain, apalagi bila ditemani orang tua. Banyak permainan-permainan yang bisa membantu anak dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, misalnya bermain kartu, bermain monopoli, bermain puzzle, bermain ular tangga, bermain catur, dan lainnya. Permainan-permainan di luar rumah juga bisa membuat anak untuk lebih bersikap terbuka, apalagi bila orang tua mampu mengajak teman-teman lain untuk bermain bersama anaknya.

Setelah selesai bermain bersama anak, orang tua bisa menanyakan beberapa hal untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritisnya, misalnya tentang apa yang anak pelajari saat melakukan permainan bersama teman-teman, apa tantangan yang dihadapi saat memainkan permainan tersebut, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bisa meningkatkan keterampilan berpikir kritis anak.

c. Memberikan Kesempatan kepada Anak untuk Memecahkan Masalah

Berikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya atau menemukan solusi sesuai dengan pemikirannya. Salah satu contoh sederhana adalah saat melihat kaca jendela berdebu, biarkan anak berpikir bagaimana caranya untuk membuatnya bersih dan berkilau.

Biarkan anak berpikir secara mandiri, dan membiarkannya membersihkan jendela yang kotor dengan cara mereka sendiri. Setelah anak mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan idenya sendiri, orang tua bisa memberikan beberapa nasihat agar anak bisa membersihkan kaca yang berdebu dengan cara yang lebih baik tanpa ada unsur memaksa, namun lebih pada memberikan saran.

d. Menjawab Pertanyaan Anak dengan Sabar dan Bijaksana

Anak-anak sangat gemar bertanya. Orang tua harus mampu bersikap sabar dan bijaksana dalam menjawab setiap pertanyaan anak. Sebab, bertanya adalah dasar dari keterampilan berpikir kritis. Jadi, pastikan orang tua menjawab setiap pertanyaan anak dengan jawaban yang benar dan tidak mengada-ada. Bila orang tua tidak tahu jawabannya, orang tua bisa mencari di sumber-sumber informasi yang terpercaya.

Saat orang tua tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya, dan orang tua menjawab bahwa dirinya belum mengetahui atau memahaminya, ia telah menunjukkan sikap rendah hati. Sikap rendah hati sangat penting agar seseorang menjadi pemikir kritis. Ia akan menjadi lebih terbuka dalam menerima nasihat dan masukan orang lain, terutama saat ia sendiri belum terlalu memahaminya, sehingga pengetahuannya akan berkembang dengan lebih baik.

e. Melatih Anak Menentukan Pilihan

Keterampilan ini bisa dilatih dengan menanyakan kepada anak hal-hal sederhana dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan. Contohnya adalah dengan menanyakan kepada anak kegiatan apa yang bisa dilakukan bersama keluarga untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Mintalah anak untuk menjelaskan alasan mengapa memilih kegiatan tersebut.

Setelah itu, orang tua dengan penuh sepenuh hati mau mengikuti keinginan anaknya tersebut. Hal ini akan menumbuhkan karakter kepercayaan diri dalam diri anak dalam menentukan suatu pilihan. Anak juga akan belajar untuk tidak terlalu bergantung kepada orang tua atau orang lain dalam menentukan setiap pilihan dalam hidupnya.

f. Mengajari Anak Berpikiran Terbuka

Ajarkan kepada anak bahwa setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Anak harus belajar menerima pemikiran orang lain, tanpa harus mengedepankan rasa tidak suka kepada pemikiran yang berbeda, apalagi yang mengarah pada perselisihan. Ajarkan pula kepada anak untuk bisa menjadi pendengar yang baik, mampu bersikap sabar dan rendah hati saat orang lain berbicara atau mengungkapkan pendapatnya. Hal ini juga akan menumbuhkan sikap menghargai pendapat orang lain, meskipun memiliki perbedaan pendapat.


Sumber Referensi

1. Gordon, S. (2021). How to teach your child to be a critical thinker [1]

2. Li, P. (2022). Critical thinking for kids [2]

Author :Kak Zepe (ZP. Heru Budhianto. KP)

Kak Zepe adalah pencipta lagu edukasi, pengajar di SD Olifant Sleman DIY, dan penulis artikel edukasi dan parenting.