Top

Transformasi Gaya Pembelajaran Sekolah Masa Kini

19 Februari 2022

Seorang guru tidak hanya bertugas untuk mengajar, namun juga belajar. Mengajar untuk membuat siswa semakin kaya akan ilmu pengetahuan, mampu mengembangkan ketrampilan, dan kian memiliki karakter yang baik. Sedangkan guru juga perlu belajar, agar semakin kaya akan ilmu pengetahuan, semakin banyak ketrampilan yang bisa digunakan dalam mengajar, dan semakin menjadi pribadi yang baik agar layak jadi teladan.

Namun bila kita berbicara tentang gaya pembelajaran, tentu saja akan memiliki perbedaan gaya pembelajaran dari satu zaman ke zaman berikutnya. Teknologi yang berkembangan begitu pesat membuat setiap orang tidak bisa berhenti di zona nyaman, bila tak mau ketinggalan. Begitu juga dengan guru di zaman sekarang. Seiring dengan perkembangan zaman, seorang guru perlu bergerak dan terus belajar agar tidak kalah dalam persaingan, terutama antar satu lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya.

Inilah transformasi pembelajaran yang perlu diperhatikan lembaga pendidikan di masa kini, agar tetap menjadi terdepan diantara tingginya persaingan.

1. Pembelajaran Guru Aktif menjadi Siswa Aktif

Pada zaman dahulu, guru aktif berceramah. Namun, di masa sekarang guru perlu mencari cara agar siswa bisa lebih aktif daripada gurunya. Walau pun terkadang guru perlu memberikan drilling ilmu pengetahuan, namun jangan lupa untuk mengajak siswa berinteraksi, misalnya dengan melakukan diskusi atau tanya jawab. Momen terbaik agar siswa bisa aktif adalah dengan melakukan aktivitas menarik yang bisa memancing siswa untuk lebih aktif berbicara. Misalnya dengan mempertontonkan siswa dengan sebuah gambar atau video, lalu mengajak siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar atau video tersebut satu per satu.

2. Peran Guru yang Lebih sebagai Fasilitator

Pada zaman dahulu, tugas guru adalah memberikan ilmu yang ia miliki, lalu ditransfer kepada siswa. Namun guru zaman sekarang perlu menjadi fasilitator, yaitu dengan cara menciptakan suatu aktivitas menarik yang membuat siswa bisa belajar secara mandiri, baik individu mau pun berkelompok. Misalnya dengan menyediakan peralatan berupa gunting, kertas origami, kertas manila, lem dan lainnya, anak-anak dipersilakan untuk membuat aneka kreasi sesuai tema atau materi pemebelajaran. Inilah salah satu kegiatan yang mengembangkan kreatifitas siswa tanpa banyak didikte oleh guru.

3. Media Belajar Berbasis Teknologi

Perkembangan teknologi membuat setiap sekolah perlu meng-upgrade media belajar-mengajar yang digunakan. Apalagi anak-anak zaman sekarang sudah akrab dengan penggunaan teknologi. Hal-hal berbau teknologi tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk dieksplorasi, apalagi digunakan sebagai media edukasi. Untuk tahun-tahun mendatang mungkin spidol, lem, kertas, akan semakin sedikit digunakan. Guru perlu mencari cara agar penggunaan media teknologi semakin ditingkatkan sebagai media pelajaran.

Guru, siswa, dan mahasiswa juga sangat perlu meningkatkan aneka ilmu dengan basis teknologi. Dengan pengalaman memproduksi aneka game onlie, website edukasi, dan platforma edukasi lainnya, Gamelab.id memberikan kesempatan bagi Anda untuk belajar bersama tutor-tutor handal. Ada kelas "free trial"-nya juga lho. Silakan bergabung dengan klik Gamelab.id.

4. Tugas atau Proyek Berbasis Teknologi

Selain media mengajar, tugas-tugas yang bisa dikerjakan siswa mulai banyak berubah. Lembar belajar yang dulunya dalam bentuk kertas atau buku, kini bisa dikerjakan via online. Tugas membuat video, menulis puisi, menggambar, dan lainnya kini bisa dikerjakan dan dikumpulkan via online. Aneka tugas anak pun tidak melulu harus membuat suatu produk. Kita bisa mengajak anak belajar nama hewan, aneka warna, dan benda-benda angkasa dengan permainan edukasi digital. Hal ini tentunya akan membuat pengeluaran sekolah menjadi lebih hemat.  Namun juga membutuhkan modal dan semangat dari para tenaga pendidikan untuk mau belajar ilmu pengetahuan tentang teknologi.

Dibalik keunggulan dan sisi menarik dari pembelajaran berbasis teknologi, namun kita tentu juga merasakan bahwa ada sisi negatif dari pembelajaran berbasis teknologi. Sebagai contohnya adalah kemerosotan moral, menurunnya ketrampilan bersosialisasi, rendahnya rasa empati, dan aneka sisi negatif yang sebenarnya masih bisa diatasi. Namun selagi orang tua dan guru masih mampu bersinergi untuk mengantisipasi permasalahan ini, sisi negatif tersebut pasti bisa segera diatasi. Semoga kurikulum yang baru dirancang pemerintah juga bisa menjadi jembatan demi kebaikan generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.

Author :Kak Zepe (ZP. Heru Budhianto. KP)

Kak Zepe adalah pencipta lagu edukasi, pengajar di SD Olifant Sleman DIY, dan penulis artikel edukasi dan parenting.