Top

Peran Orang Tua dalam Pengembangan Literasi Anak Usia Dini  

24 April 2022

Kurikulum Merdeka sedang menjadi topik yang hangat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pengembangan literasi menjadi salah satu hal menarik yang menjadi pondasi, mengingat anak-anak zaman sekarang sangat erat kaitannya dengan teknologi. Menonton film di layar perangkat komunikasi dan berbicara di depan kamera sudah menjadi bagian sehari-hari. Para pemiliki perusahaan pun menganggap hal ini sebagai suatu peluang, dan memanfaatkan perangkat komunikasi sebagai media promosi. Di masa mendatang, ketrampilan anak berliterasi bisa menjadi keunikan tersendiri terutama saat sang buah hati mulai terjun di dunia profesi.
 
Apa peran orang tua dalam pengembangan literasi bagi anak usia dini?
 

1. Sebagai Teladan

Bila seorang anak memiliki orang tua yang piawai dalam hal berbicara di depan publik, biasanya anaknya pun akan memiliki kemampuan yang sama. Orang tua tinggal mengarahkan dengan cara membiasakan diri berkata-kata yang baik dan sopan. Karena ketrampilan literasi sangat erat hubungannya dengan luasnya pengetahuan, maka orang tua pun harus menjadi teladan sebagai seorang pembelajar yang tekun 
dan pembaca buku yang rajin. 

2. Sebagai Pengayom

Orang yang memiliki sifat mengayomi selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan semua orang. Jalinan kasih antara orang tua dan sang buah hati, perlu dibangun sejak dini. Hal ini sangat membantu anak usia dini dalam membangun relasi yang baik juga dengan sesamanya,
terutama dengan teman sebaya. Jalinan kasih ini tidak akan bisa dibangun tanpa adanya komunikasi. Tentunya jalinan komunikasi ini harus berjalan dua arah. Jangan sampai orang tua hanya sibuk berkata-kata, tapi lambat dalam mendengar. Saat orang tua mau mendengar, anak akan terlatih untuk mengemukakan pendapat dan memiliki sifat terbuka.

3. Melatih Kemandirian

Agar anak terampil dalam berliterasi, ia harus mendapatkan kesempatan dalam menyelesaikan persoalannya sendiri. Misalnya saat mainan yang dimainkan sudah berserakan, berikan kesempatan kepada anak untuk membereskannya sendiri. Saat anak kesulitan menali sepatunya, beri kesempatan padanya untuk menali sepatunya sendiri. Anak yang memiliki kemandirian yang baik, biasanya memiliki mental yang lebih kuat daripada anak yang "apa-apa dibantu." Kekuatan mental untuk tidak takut gagal dan tidak takut salah, akan membuat anak semakin  cepat berkembang dalam memutuskan seuatu dan menyelesaikan masalah.

4. Mengajarkan Norma

Kurikulum Merdeka Belajar sangat mendukung kebebasan siswa dalam belajar. Siswa diberi kebebasan dalam mendapatkan ilmu, membuat karya, dan mengekspresikan diri. Namun kebebasan ini akan menjadi berbahaya bila orang tua tidak mengajarkan norma. Norma yang menjadi pondasi setiap orang tentu saja adalah norma agama. Setelah itu ada norma sopan santun, norma masyarakat, dan norma atau hukum negara. Ajarkan norma-norma ini sejak dini, sehingga anak tetap memiliki sifat yang bebas,  namun bertanggung jawab, tidak merugikan diri sendiri, tidak merugikan orang lain,  dan yang terpenting bisa tumbuh secara optimal dalam hal kecerdasan, ketrampilan, dan karakter.

5. Inspirator dan Motivator

Agar anak terampil dalam berbicara, maka ia harus sering mendapatkan kesempatan untuk berbicara. Namun tentu saja saat berbicara, anak-anak kadang melakukan kesalahan, misalnya salah dalam memilih kata-kata atau salah dalam menggunakan nada bicara. Tentu saja, orang tua tidak boleh serta merta menyalahkan, apalagi membiarkannya. Berikan nasihat kepada anak bila ia ada kesalahan dalam memilih kata, dan pemilihan nada bicara (terutama saat berbicara pada orang yang lebih tua), setelah itu berikan motivasi dan semangat padanya. Berikan pencerahan dan harapan segala sesuatu pasti akan lebih baik ke depannya.

Author :Kak Zepe (ZP. Heru Budhianto. KP)

Kak Zepe adalah pencipta lagu edukasi, pengajar di SD Olifant Sleman DIY, dan penulis artikel edukasi dan parenting.