Top

8 Jurus Jitu Memotivasi Anak Pemalu Jadi Percaya Diri

29 Oktober 2022

Di era digital seperti sekarang, kepercayaan diri seseorang akan menentukan kariernya di masa depan. Orang yang percaya diri akan berani tampil menarik di dunia maya maupun di dunia nyata. Banyak orang menjadi terkenal dan memiliki banyak followers, karena percaya diri untuk tampil di depan kamera dan penampilannya bisa ditonton oleh ribuan bahkan jutaan viewers melalui media sosial.

Sebaliknya, sifat pemalu tentu bisa menjadi penghambat bagi perkembangan karier seseorang. Dilansir dari Better Health Channel:

"Seorang anak dengan karakter pemalu akan merasa cemas atau menjadi minder dalam situasi yang asing atau saat berinteraksi dengan orang lain. Seorang anak pemalu kemungkinan besar akan merasa gugup jika mereka merasa 'dipertontonkan', seperti saat bertemu seseorang yang baru atau harus berbicara di depan orang lain. Seorang anak pemalu jauh lebih nyaman untuk menonton aksi dari pinggir lapangan daripada ikut bermain di tanah lapangan."

Lantas, bagaimana melatih anak agar bisa mengatasi perilaku gugup, cemas, dan terlihat kurang percaya diri di era teknologi seperti sekarang?

1. Rajin Mendokumentasikan Kegiatan Harian Bersama si Kecil

Seorang anak biasanya akan terlihat lebih percaya diri dan merasa nyaman bila bersama dengan orang terdekat atau orang yang disayang. Si kecil tentu saja bisa terlihat lebih percaya diri serta mampu mengekspresikan dirinya saat bersama orang tua. Maka dari itu, orang tua bisa mendokumentasikan berbagai kegiatan harian si kecil sekreatif mungkin. Orang tua juga bisa mengajak anak berinteraksi dan melakukan wawancara sambil mengambil videonya, agar anak terbiasa berinteraksi dan tampil di depan kamera. Ada lho, anak-anak yang terlihat kaku dan berbicara terbata-bata saat berada di depan kamera.

2. Menggali Potensi Anak

Perkembangan teknologi memunculkan aneka ragam hobi yang baru, misalnya coding, robotic, membuat animasi, dan lainnya. Di masa kini dan masa depan, teknologi bisa memfasilitasi hobi menjadi suatu profesi yang menjanjikan.

Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak agar bisa mengembangkan dirinya melalui berbagai hobi anak masa kini. Orang tua bisa mengajak anak untuk bergabung dengan kursus-kursus agar anak bisa semakin ahli melakukan suatu hobi yang paling ia gemari dan menjadi talentanya. Bila anak merasa dikagumi dan dihargai ketika melakukan hobinya, maka ia akan semakin percaya diri dalam kehidupan sosialnya.

3. Mengatur Penggunaan Gadget

Anak zaman sekarang banyak memanfaatkan waktunya untuk bermain gadget. Aktivitas ini dapat menyita banyak waktu anak, terutama untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Akibatnya, anak menjadi lebih sering berada di rumah. Hal ini bisa menjadi pemicu anak memiliki karakter pemalu yang diakibatkan karena kurangnya waktu untuk bersosialisasi. Orang tua perlu membuat jadwal untuk anak, kapan ia diizinkan bermain gadget.

4. Mengembangkan Sikap Optimis dengan Kata-Kata Positif

Salah satu penyebab anak menjadi pemalu adalah karena ia pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, misalnya gagal mendapat juara saat mengikuti kompetisi atau saat ia mendapatkan nilai yang kurang baik dalam pembelajaran di sekolah. Orang tua bisa memotivasi anak dengan kata-kata positif, misalnya:

  • "Kegagalan akan membuatmu menjadi lebih kuat, Nak."
  • "Belajarlah lebih giat lagi ketika kamu belum mendapatkan hasil yang maksimal!"
  • "Jangan pernah menyerah sebelum kamu mencapai apa yang kamu harapkan!"

5. Menjadi Teladan

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua juga perlu menampilkan diri sebagai pribadi yang percaya diri dan tidak suka menutup diri dengan cara:

  • Bersosialisasi, setidaknya dengan tetangga dekat.
  • Rajin mengikuti acara-acara keluarga.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan masyarakat.

6. Meminta Anak Berpendapat dan Mengambil Keputusan

Orang tua bisa meminta pendapat anak sebelum mengambil keputusan, terutama untuk hal-hal yang tidak terlalu mendesak atau penting. Saat anak mengalami suatu persoalan, orang tua juga bisa meminta anak untuk menemukan solusinya secara mandiri. Beberapa pertanyaan yang bisa melatih keterampilan mengambil keputusan, misalnya:

  • “Hari ini mau makan apa, Nak?”
  • “Liburan akhir pekan ini kamu ingin ke mana?”
  • “Apakah kamu tahu cara membuat kamarmu agar terlihat lebih rapi?”

7. Memberikan Pujian secara Tepat dan Porsi yang Pas

Saat anak melakukan suatu kebaikan atau mencapai perkembangan yang lebih baik, orang tua bisa memberikan pujian. Pujian-pujian tersebut bisa memotivasi si kecil agar menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri. Namun harus diingat, pujian-pujian yang terlalu berlebihan perlu dihindari orang tua, misalnya saat merasa gemas dengan pipi si kecil lalu mengatakan:

“Anakku tersayang, lucu sekali … Mama jadi gemes.”

Pujian-pujian yang berlebihan kadang bisa membuat anak justru tumbuh menjadi anak yang manja dan memiliki mental yang lemah.

8. Terkadang si Kecil Perlu Belajar “Menyelamatkan Diri”

Orang tua tentu selalu ingin anaknya mendapatkan kenyamanan dan perlindungan. Namun, bila orang tua terlalu memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada si kecil, maka ia akan cenderung menjadi pribadi yang mudah bergantung kepada orang lain.

Saat anak mengalami kesulitan, misalnya saat mencoba mengikat tali sepatunya, merapikan kerah bajunya, atau saat ia berkonflik dengan saudara kandungnya, orang tua sesekali perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan persoalannya sendiri atau hanya memberikan sedikit bantuan saja.


Sumber Referensi:

1. Better Health Channel. (2022). Children and shyness [1]

2. Raisingchildren.net.au. (2022). Shyness: babies and children [2]

Author :Kak Zepe (ZP. Heru Budhianto. KP)

Kak Zepe adalah pencipta lagu edukasi, pengajar di SD Olifant Sleman DIY, dan penulis artikel edukasi dan parenting.